Jumat, 15 Juli 2016

Berkunjung ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

image from djkn.depkeu
Akhirnya ke Perpusnas juga...
Setelah sekian lama akhirnya bisa juga berkunjung ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) atau perpusnas.

Beralamat di Jl. Salemba Raya No. 28 A Jakarta, saya putuskan untuk menempuh via kereta Commuterline. Keluar di stasiun Manggarai, lalu lanjut sambung perjalanan dengan Transjakarta.
Saat ini Transjakarta sangat mudah diakses dari stasiun Manggarai karena mereka tersedia tepat di depan pintu keluar stasiun. Untuk beli tiketnya pun dari sini tidak harus melulu dengan e-money alias bisa dengan uang cash di counter ticketing tenda yang tersedia. Harga ticket Transjakarta saat ini sebesar Rp 3500.
Dari stasiun Manggarai bisa naik Transjakarta jurusan mana saja, turun di halte Manggarai. Dari halte Manggarai kemudian berganti ke jurusan Pulogadung, turun di halte Matraman kemudian lanjut jalan kaki ke gedung perpusnas yang terletak di seberang gedung BPJS Ketenagakerjaan atau di sebelah Kementrian Sosial.
Bagi yang agak bingung arah ke Perpusnas di sebelah mana, saat di bus Transjakarta perhatikan saja terus sebelah kiri jalan. Menjelang perempatan sebelum halte Matraman akan ada penunjuk arah ke PERPUSTAKAAN NASIONAL. Jadi dari halte Matraman menyeberanglah ke arah kiri dari datangnya bus, kemudian jalan berlawanan arah dengan datangnya bus, menuju perempatan, belok kanan, menyeberang lagi lalu ikuti saja trotoar sampai bertemu Kementrian Sosial. Nah, di sebelahnya adalah komplek Perpusnas.

Sampai di komplek Perpusnas langsung saja menuju canopy biru yang di sebelah kanannya adalah pintu masuk ke perpustakaan. Masuklah, dan anda akan berada di lantai 1 perpusnas.

Karena minimnya informasi bagaimana alur peminjaman buku atau mungking bagaimana mengakses layanan lain, sudah hampir bisa dipastikan yang baru pertama kali datang akan cukup bingung disana. Seperti yang saya alami kemarin. Jadi jangan malu bertanya pada petugas walaupun mungkin (menurut pengalaman beberapa teman) mereka akan menjawab dengan kesan setengah hati dan kurang ramah.

Mengunjungi perpustakaan harus mengisi buku tamu. Di Perpusnas hanya bisa diisi dengan nomor anggota. Jadi setiap pengunjung harus jadi anggota dulu. Saat mengunjungi Perpusnas pertama kali pasti akan diarahkan untuk mendaftar dulu. Pengalaman saya kemarin, karena sistem untuk pencetakan kartu anggota sedang error, oleh petugas pendaftaran saya diarahkan untuk mendaftar di komputer dahulu saja sekedar untuk mendapat nomor anggota agar bisa mulai membaca.

Setelah mengisi form pendaftaran online (bisa diakses juga di sini), saya mendapat nomor anggota. Petugas menyarankan saya untuk kembali lagi nanti ke ruang pendaftaran anggota, siapa tahu bisa foto dan cetak kartu hari itu juga. Tapi beliau tidak menjamin peralatan sudah sembuh. Jadi coba saja nanti sebelum pulang untuk cek lagi.
Pada akhirnya saya tidak bisa mendapat kartu anggota hari itu.

Berbekal nomor anggota kita isi buku tamu di komputer yang berada di antara petugas security dan resepsionis. Kemudian di resepsionis kita bisa meminjam kunci loker dengan jaminan KTP. Kita akan mendapat 1 kunci loker dan 1 kartu nomor untuk mengambil KTP kita nanti.

Untuk mulai membaca buku kita harus naik ke lantai 2 untuk mencari letak buku yang ingin kita baca di katalog melalui komputer yang banyak tersedia. Di Perpusnas ini kita tidak bisa mengambil buku sendiri seperti di perpustakaan pada umumnya. Jadi kita harus tahu dahulu buku apa yang ingin kita baca.
Setelah mendapat informasi tentang buku yang ingin kita baca silahkan mengisi bon peminjaman buku yang ada di meja petugas lantai 2. Serahkan bon yang sudah diisi kepada petugas dan beliau akan memberitahu kita buku tersebut berada di lantai berapa. Saya sendiri kemarin diarahkan ke lantai 3 blok C (3C) untuk bisa membaca ARUS BALIK-nya Pramoedya Ananta Toer.

Tips 1. cek dulu via OPAC (Online Public Access Catalog) dari rumah agar bisa dipastikan buku yang ingin kita baca memang tersedia di Perpusnas. Daripada jauh-jauh datang tapi ternyata buku yang ingin dibaca ternyata tidak tersedia.

Tips 2. bawalah bolpoin sendiri ke lantai 2 ini untuk menulis di bon peminjaman karena cukup susah mendapat bolpoin di sana.

Melipir ke lantai 3 blok C saya taruh bon peminjaman ke box yang tersedia di meja petugas. Sambil tunggu petugas mencarikan buku, saya mengisi buku tamu di komputer. Hanya ada 2 pengunjung waktu itu, seorang bapak-bapak yang sedang baca dan saya sendiri.
Petugas jaga juga ada 2 orang dengan meja kerja yang terhitung lebih banyak melebihi petugas yang sedang berjaga.

Kurang lebih 5 menit petugas sudah menyiapkan buku yang ingin saya baca. Sebelum membaca buku, lagi-lagi untuk jaminan, kita harus menyerahkan kartu anggota ke petugas untuk diattach di bon peminjaman selama kita membaca buku. Karena saya belum mempunyai kartu anggota maka saya menyerahkan SIM sebagai penggantinya mengingat KTP saya jadikan jaminan untuk pinjam kunci loker. Dan, mulailah membaca...

Tips 3. Selalu bawalah kartu identitas apapun itu jenisnya. Bisa kartu pelajar, kartu mahasiswa, KTP, SIM, kartu pegawai dll. 
Karena kemarin saya tidak membawa kartu identitas saat di lantai 3, saya pun harus turun lagi mengambil SIM saya di loker.

Selesai membaca serahkan kembali buku ke petugas sambil mengambil kartu identitas kita.

Buku-buku di Perpusnas hanya bisa dibaca di tempat, tidak bisa dibawa pulang. Jika perlu menyalin bisa dengan fotokopi dan itu berbayar. Tarif per lembarnya berbeda-beda tergantung tahun terbit. Semakin baru tahun terbit semakin murah tarif per lembar. Kalau tidak salah paling murah Rp 250 per lembar.

Tempat membaca di Perpusnas sangat nyaman di tiap lantai dan bloknya. Terdapat pula komputer untuk browsing di lantai 1 dan akses wifi di tiap lantai dan blok. Untuk yang sekedar ingin membaca tabloid atau surat kabar tersedia di lantai 1. Ada pula toilet (yang cukup tidak terawat+jorok untuk ukuran perpustakaan NASIONAL) dan mini market di lantai 1.

Sekian, semoga bisa jadi sedikit referensi bagi yang ingin berkunjung.



Rabu, 11 Mei 2016

Klaim Jaminan Hari Tua (JHT) Dengan Alasan Mengundurkan Diri

Libur yang panjang segera berakhir. Seharusnya sudah berakhir hari Minggu tanggal 8 Mei 2016 kemarin. Tetapi ada satu urusan yang belum selesai, yakni acara klaim JHT, akhirnye Libur yang panjang terpaksa diperpanjang plus 3 hari. Untung bos tempat kerja baru berbaik hati memberi keleluasaan, yang tadinya harus masuk tanggal 9 Mei 2016 akhirnya diundur ke tanggal 12 Mei 2016. Makasih pak boss. 갑사합니다 사장님!!

Perlu diketahui bahwa di beberapa kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan sudah tidak lagi memberlakukan pendaftaran klaim secara manual. Jadi harus daftar e-Klaim dulu, setelah terima notifikasi via email baru bisa klaim ke kantor yang dituju yang didaftarkan saat mengajukan e-Klaim. Eh kok ribet. Sebenarnya tidak juga. Pendaftaran klaim secara online atau e-Klaim diberlakukan beberapa kantor cabang justru untuk mengurangi jumlah antrian yang sering terjadi jika dilakukan pendaftaran secara manual.

Hanya saja, menurut yang sering saya baca dan saya dengar dari beberapa teman, notifikasi email kadang agak lama didapat. Ada yang sampai menunggu seminggu, dua minggu bahkan lebih. 

Tetapi tenang saja, yang sudah malas duluan membayangkan ribetnya mengajukan e-Klaim, masih ada juga kok beberapa kantor BPJS yang melayani pendaftaran secara manual. Saya sendiri memilih pendaftaran klaim secara manual dengan pertimbangan jika melakukan e-Klaim mungkin saja masih ada berkas yang kurang sehingga bisa saja klaim ditolak. Belum lagi kalau notifikasi yang didapat harus tunggu waktu lama. Di pikiran saya, pengajuan secara manual atau off line lebih jelas, kalau ada yang kurang bisa langsung dikasihtau dan saya bisa bebas banyak tanya secara langsung ke sumber yang jelas (orang BPJS Ketenagakerjaan -red). Meskipun ada resiko harus mengantri lama seperti yang sering saya baca dari internet.

Seperti yang pernah saya ungkapkan sebelumnya, saya sudah pernah mendatangi BPJS Ketenagakerjaan Depok. Sayangnya, klaim harus diajukan secara online. Kemudian saya mencari alternatif lain yaitu daftar klaim lewat bang BRO -eh bank BRI.
Senin, 9 Mei 2016 sekitar pukul 09.00 saya berangkat ke bank BRI Cimanggis-Depok sebagai bank yang bekerjasama untuk klaim JHT. Sampai di BRI saya dapat informasi dari satpam yang bertugas bahwa klaim diproses dalam jangka waktu sekitar 2 minggu dari pendaftaran dan pendaftaran klaim JHT dibatasi per hari 15 orang. Saat itu walaupun baru pukul 09.00 pagi tentu saja jatah pendaftaran klaim JHT sudah habis. Bagaimana tidak, hanya 15 orang per hari!! Informasi yang tidak saya dapatkan dari kertas pengumuman di kaca kantor BPJS Ketenagakerjaan Depok.

Sempat kecewa dan merasa sia-sia karena pernah mencicil membuka rekening BRI dengan niat awal untuk memperlancar klaim JHT via bank BRI. 

Tak mau berlama-lama kecewa, saya cari alternatif lain. Saya coba cek ke kantor BPJS Ketenagakerjaan Bogor. Sampai disana sama saja hasilnya nihil. Mereka tidak lagi melayani klaim JHT secara manual. Yasalam...
Berhenti sejenak, merenung, browsing, saya menemukan kesamaan antara kantor BPJS Ketenagakerjaan Bogor, Cileungsi, maupun Depok, yaitu tidak melayani pendaftaran secara manual.

Saya teringat pernah baca sebuah blog bahwa di bilangan Jl. Gatot Subroto antrian cenderung sedikit. Akhirnya saya niatkan ke kantor BPJS Ketenagakerjaan yang berada di Menara Jamsostek di Jl. Gatot Subroto Jakarta Selatan. Dari Bogor lansung ke TKP. Jaohhhhnye...

Sekitar hampir 2 jam perjalanan saya berhasil ke Menara Jamsostek dan langsung menuju ke kantor BPJS Ketenagakerjaan di lantai 2. Malangnya, karena sudah jam 2 siang saya sampai antrian sudah habis. Tapi setidaknya saya dapat informasi kalau tiap hari disediakan jatah sampai 100 orang khusus untuk melayani klaim JHT. Kalau saya ingin proses disana disarankan untuk datang kembali di hari berikutnya dan diusahakan sebelum pukul 07.00. Bahkan justru saya diarahkan bisa ke beberapa bank untuk klaim JHT.
Okay,  saya akan kembali esok hari saja.

Skiipppppp.

Selasa, 10 Mei 2016 saya meluncur kembali ke Menara Jamsostek. Pukul 05.10 berangkat dan tiba pukul 06.15.
Di depan kantor yang baru akan buka jam 08.00 sudah ada beberapa orang antri, dan sudah ada beberapa tumpuk berkas dokumen persyaratan klaim JHT. 
Saya langsung menuju meja satpam di depan pintu kantor meminta formulir 5 untuk klaim JHT selain mencapai usia pensiun. Oleh satpam berkas persyaratan saya dicek. Dan, syukurlah tidak ada komen tambahan. Saya isi formulir 5 dengan lengkap kemudian saya berikan kembali ke satpam yang sebelumnya sudah memberi saya map plastik bening untuk tempat berkas persyaratan bertuliskan BPJS TK.

Jam 08.00 kantor sudah mulai beroperasi. Tetapi berkas yang tadi ditumpuk di meja satpam masih harus dicek di bagian pengecekan dokumen.
Alur resminya seperti ini: 
Form 5+semua dokumen persyaratan dimasukkan ke dropbox yang disediakan >> dokumen persyaratan dicek+verifikasi  disesuaikan aslinya >> dapat nomor antrian >> diproses di Customer Service Officer klaim. Yang datang setelah jam 8 mungkin harus memasukkan ke dropbox sendiri. Karena saya datang lebih awal jadi tetap dapat prioritas pengecekan dokumen sesuai kedatangan saya melalui satpam langsung ke pengecek dokumen. 

Ternyata saya mendapat urutan ke 14 dalam tumpukan berkas persyaratan. Setelah nama saya dipanggil, saya melakukan verifikasi berkas persyaratan.

Adapun persyaratan untuk klaim JHT dengan alasan mengundurkan diri (berdasarkan pengalaman saya) adalah sbb:
1.  Kartu peserta BPJS Ketenagakerjaan / kartu Jamsostek asli + foto kopinya 1 lembar
2. Foto kopi KTP atau paspor yang masih berlaku dengan menunjukkan yang asli
3. Foto kopi surat keterangan kerja/verklaring/paklaring dengan menunjukkan yang asli
4. Surat keterangan pengunduran diri dari perusahaan tempat bekerja yang ditujukan kepada dan diketahui Dinas Ketenagakerjaan setempat dengan tembusan kepada BPJS Ketenagakerjaan setempat (khusus untuk yang mengundurkan diri setelah 1 September 2015)
5. Foto kopi Kartu Keluarga dengan menunjukkan yang asli
6. Foto kopi rekening tabungan

Verifikasi berkas saya berjalan lancar karena semua syarat lengkap. Setelah itu saya mendapat nomor antrian dan beberapa menit kemudian saya dipanggil ke loket. Disini ada 4 loket yang disediakan khusus melayani klaim JHT. 3 loket untuk klaim manual dan 1 liket untuk e-Klaim.

Di loket petugas memverifikasi ulang semua data, termasuk menanyakan nama Ibu kandung saya karena alamat pada data BPJS Ketenagakerjaan dengan yang tertera di KTP berbeda. Tapi tidak masalah, selama ibu kandung tidak berganti nama semua masih aman. 
Ada satu formulir lagi yang harus saya isi saat di loket. Hanya isi nama diri, nama perusahaan terakhir bekerja beserta alamatnya dan memberi checklist pada kolom persyaratan.
Petugas loket juga akan mengambil foto kita secara langsung di loket dan meminta cap jempol kiri kita. 

Proses di loket kurang lebih 5-10 menit. Setelah selesai petugas memberikan tanda terima pendaftaran klaim dan menginformasikan bahwa dana akan cair maksimal 5 hari kerja. 

Dan.... semoga lekas cair. 

AMIIN.

Selasa, 10 Mei 2016

Membuka Rekening Baru di BRI

Bermula saat berniat mancairkan alias klaim dana JHT di BPJS Ketenagakerjaan cabang Depok yang ternyata harus mendaftar secara online, akhirnya saya berharap pada alternatif lain, yaitu mengajukan klaim lewat bank BRI.

Informasi bisanya pengajuan klaim melalui BRI saya peroleh dari kertas pengumuman yang ditempel di kaca kantor BPJS Ketenagakerjaan Depok. Seperti ini penampakannya:

Kertas pengumuman di BPJS Ketenagakerjaan Depok
Sembari menunggu beberapa syarat yang belum siap, saya mencicil untuk membuka rekening baru di BRI agar nanti saat semua syarat sudah lengkap saya tinggal melancarkan klaim saya tanpa banyak makan waktu lagi.

Berangkatlah saya ke kantor BRI cabang Margonda-Depok yang terletak bersebelahan dengan POLRES Depok. Begitu masuk ruangan seperti biasa satpam yang bertugas langsung membantu saya dengan memberikan form yang harus saya isi dan juga nomor antrian. Hari itu meskipun sudah cukup siang tetapi antrian ke Customer Service tidak terlalu banyak. Tiap bank memang berbeda jumlah banyak antriannya. Ada yang biasa saja, lengang, ada yang panjangnya naudzubillah. Begitulah. Skip.

10 menit duduk menunggu di kursi antrian, nama saya pun akhirnya dipanggil. Saya menuju ke salah satu meja CS Officer (CSO). Mbak CSO menanyakan maksud kedatangan saya, saya jelaskan, dan dia pun balik menjelaskan kepada saya jenis-jenis tabungan di BRI melalui presentasi kecil via tablet.
Okay, saya pilih BRItama dengan mempertimbangkan adanya fasilitas mobile banking, e-Banking dan asuransi kecelakaan diri jika mencapai nominal minimal saldo.

Mbak CSO meminta formulir yang sudah saya isi, dilengkapi dengan KTP asli saya. Beberapa data yang masih kosong juga dibantu dilengkapi. Setelah semua data diinput saya masih harus mengeluarkan dana untuk syarat minimal setoran pertama sebesar 250 ribu. Setelah itu saya harus membubuhkan tandatangan pada beberapa form dan di buku tabungan baru. Sebagai catatan, untuk rekam data pada perbankan, tandatangan yang kita bubuhkan harus sama dengan yang kita bubuhkan pada KTP. Harus semirip mungkin. Jika tidak, seperti yang saya alami, ada sebuah sisi tandatangan saya yang kurang memiliki lubang seperti di KTP, akhirnya coba lagi dulu di kertas bekas dan tandatangan ulang di formulir.

Beberapa saat kemudian buku tabungan dan kartu ATM sudah saya terima. Tetapi di kartu ATM tidak tercantum nama saya. Jangan khawatir, kita bisa meminta CSO untuk mencetak nama kita. Secepat mencetak di kertas biasa. Langsung jadi.

Saya juga meminta bantuan mbak CSO untuk mengaktifkan layanan mobile dan e-Banking. Dibantu sampe tuntas biarpun saat download aplikasi di handphone gagal dan mbak CSO menyerah. Akhirnya saya urus sendiri di luar kantor bank.

Sudah ada rekening baru jangan lupa untuk menabung. Menabung pangkal kaya. Menabung ya...bukan menyabung.

Wassalam.

Update Alias Pengkinian Alamat NPWP

Mungkin ada beberapa di antara kita terpisah jarak dan jurang yang dalam.... Na na na...
Halah. Bahh. Mungkin ada beberapa di antara kita sebagai seorang warga negara yang taat (atau dipaksa taat -hush!) pajak pada kartu NPWP terdapat data alamat yang tidak sama dengan data alamat yang tertera di KTP terkini.

Untuk mensinkronkan data alamat antar-kartu pribadi kita, ada baiknya semua data alamat disamakan dengan data sesuai KTP terkini. Nah, untuk mengkinikan data alamat pada NPWP berikut adalah langkah-langkah yang pernah saya lalui:

1. Mendatangi Kantor Pelayanan Pajak sesuai alamat pada NPWP lama yang akan diperbarui
2. Sampaikan pada petugas front office (petugas yang ada di depan pintu masuk kantor) maksud kedatangan kita
3. Kita akan diarahkan untuk mengisi form pemindahan alamat NPWP. Ketika form sudah terisi dengan lengkap, siapkan form beserta foto kopi KTP terkini kemudian masuk ke dalam kantor dan minta nomor antrian ke satpam yang bertugas. Lalu...
4. Duduk di kursi atau berdiri sambil tunggu dipanggil nomor antriannya.
5. Setelah dipanggil ke loket, petugas di loket akan menginput data kita sesuai alamat yang dituju (dalam hal ini sesuai dengan KTP terkini)
6. Setelah data diinput dalam sistem, petugas akan memberitahukan bahwa perubahan data sudah dilaporkan dan atau dikirimkan ke KPP tertuju dan dalam waktu 2 minggu akan diproses. Selanjutnya kartu NPWP dengan alamat baru akan langsung dikirimkan ke alamat sesuai KTP terkini kita
7. Petugas loket akan memberi kita tanda terima pelaporan pengkinian data
8. Selesai. Tinggal tunggu kartu NPWP baru terkirim ke alamat kita.

Tetapi... karena rasa penasaran dan tidak sabaran saya, 1 minggu setelah saya mendatangi KPP di tempat asal saya untuk melaporkan pengkinian alamat NPWP (Klaten), saya bergegas ke KPP di tempat domisili saya sekarang (Depok). Kebetulan saya sudah berada lagi di Depok setelah 1 minggu tersebut.

Di KPP Depok saya langsung menuju ke bagian informasi dan menanyakan tentang bagaimana prosedur pengkinian alamat di NPWP. Petugas di bagian informasi mengarahkan saya untuk mengisi sebuah formulir. Tapi saya potong dengan menunjukkan tanda terima pelaporan pemindahan alamat dari KPP Klaten. Petugas kurang yakin apakah saya bisa melanjutkan proses hanya dengan tanda terima tersebut dan menyarankan saya untuk langsung menuju ke loket pembuatan NPWP.

Mengikuti saran sang petugas informasi, saya melangkah langsung ke loket pembuatan NPWP yang hanya dikhususkan pada 1 loket saja. Di depan banyak antrian yang sedang menunggu di kursi tunggu saya menunjukkan surat tanda terima ke petugas loket sembari bertanya apakah bisa diproses pengkinian alamat NPWP hanya berbekal surat tanda terima tersebut. Petugas loket mengambil tanda terima tersebut dan meminta saya untuk menunggu dulu di kursi tunggu.

Setelah petugas di loket memanggil dan menyerahkan kartu NPWP pada 3 orang yang sudah mengantri di kursi, akhirnya nama saya disebut. Dan, NPWP dengan alamat sesuai KTP terkini sudah saya terima.

Tidak perlu antri terlalu lama dan tidak perlu tunggu kartu dikirim dari KPP Depok lagi. Jemput bola saja biar cepat SELESAI.

Mengurus Mutasi SIM C dari Jakarta ke Depok


Saat-saat mendapatkan weekdays yang berasa holidays bagi saya, saya manfaatkan untuk mengurus beberapa tertib "kartu wajib". Salah satunya adalah mengurus perpanjangan SIM C yang (saat itu) akan mulai habis masa berlakunya di tanggal 2 April 2016.

Dikarenakan SIM C saya yang masih berlaku masih beralamatkan Pasar Minggu-Jakarta, sedangkan saat ini KTP saya beralamat di Depok, maka selain melakukan perpanjangan SIM saya juga harus memutasi SIM saya agar sesuai dengan KTP.

Berbekal browsing di berbagai sumber (kebanyakan dari pengalaman blogger), pada tanggal 31 Maret 2016 berangkatlah saya menuju SATPAS SIM POLDA METRO JAYA yang berada di bilangan Daan Mogot-Jakarta Barat untuk cabut berkas yang selanjutnya akan saya pergunakan sebagai semacam "surat pengantar" untuk mutasi SIM ke Polres Depok. Di SATPAS ini pula-lah dulu saya mengurus pembuatan SIM yang akan saya mutasi ke Depok.

Bagi yang masih belum terlalu paham, jangan sampai salah dan tertukar kantor saat akan mengurus SIM. Karena di satu deret jalan ada kantor SAMSAT dan beberapa kilometer berikutnya ada kantor SATPAS. Nah, untuk pengurusan SIM dilakukan di kantor SATPAS. 

Mungkin beberapa calo ada yang menyadari jika sebagian masyarakat masih belum begitu paham sehingga beberapa calo sering terlihat di sekitar pintu masuk SAMSAT untuk menawarkan jasa pembuatan SIM. Seperti yang kemarin saya alami saat saya berhenti di dekat pintu masuk SAMSAT ada orang berpakaian rapi berdiri di sebelah motor di pinggir jalan melambaikan tangan ke saya dan bilang menyerah -eh- dan menawari saya untuk bantu mengurus SIM. Saya acuhkan saja dan saya lanjut berjalan pelan-pelan dengan motor saya. Selang beberapa puluh meter ada gang kecil di pinggir jalan, ada seseorang dengan setelan mirip dengan orang pertama yang saya jumpa, dan sama... dia menawari bantuan untuk mengurus SIM kepada saya yang sedang memacu motor dengan perlahan. Kali ini saya bilang TIDAK dan saya kencangkan laju motor saya dengan mantap menuju SATPAS.

Pukul 08.25 sampai di parkiran SATPAS saya langsung menuju kantor utama. Di depan kantor ada 2 petugas berpakaian seragam polisi (kalau berpakaian seragam Bea Cukai pasti saya benar-benar salah tujuan). Di depan kantor inilah filterisasi dilakukan. Jadi hanya orang yang benar-benar berkepentingan saja yang boleh masuk ke dalam. Mungkin untuk menghindari calo.. Bagus deh. Salah satu bapak petugas menanyakan tujuan saya datang, saya jawab ingin cabut berkas. Saya dipersilahkan masuk dan kemudian menuju bagian arsip di lantai 2.

Skip..skip.. naik via tangga, sampailah saya di lantai 2 dan langsung ke loket bagian arsip. Saya dilayani seorang bapak petugas di balik lensa -eh- loket. Saya dipalak agar menyerahkan foto kopi SIM dan KTP masing-masing 2 lembar. Dan, beliau meminta saya untuk menyerahkan uang sebesar 50 ribu rupiah. Kemudian saya disuruh menunggu di ruang tunggu ber-AC di sebelah loket.
Sebentar... di kaca loket jelas-jelas tertempel stiker bertuliskan TIDAK DIPUNGUT BIAYA. Tapi... Ah, sudahlah. Tapi kan... lumayan itu 50 ribu buat pengangguran  yang ra gablek  duit macam saya. Tapi yasudahlah, 5 tahun sekali. Menghibur diri karena ga ada yang mau hibur-hibur juga di tempat itu.

Di dalam ruang tunggu sudah ada beberapa orang yang menunggu. Sekira 10 orang. Saya sempat berbincang pendek dengan seorang bapak yang juga hendak cabut berkas. Beliau ini cabut berkas untuk mengurus SIM baru di domisili beliau sekarang di daerah Jawa Timur. Ada juga seorang mas-mas tanggung yang cabut berkas untuk mengurus SIM baru di daerah Jawa Tengah.

Menunggu sambil menonton acara tv game lokal basah-basahan yang agak konyol, 50 menit kemudian, tepatnya pukul 09.20, nama saya dipanggil petugas arsip bersama dengan 2 nama lain. Dikarenakan saya yang paling muda, kata petugasnya, cukup hanya saya saja yang mewakili untuk membawa 3 berkas tersebut untuk kemudian diserahkan ke bagian Tata Usaha (TU). 
Kenapa ga petugasnya saja sih? Lagipula hanya menyerahkan di ruangan di seberang dan disuruh tunggu lagi di ruang tunggu arsip. Yasudahlah. 

Saat membawa ke bagian TU saya sempat membaca berkas saya. Ada yang salah. Tahun lahir saya, kenapa jadi 1965??? Padahal saya anak 80an. Tanggalnya juga tidak sesuai. Saya sengaja biarkan dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sekitar 25 menit saya menunggu akhirnya berkas diberikan ke saya. Technically sudah beres acara cabut berkasnya. Tapi... tanggal lahir saya masih seperti yang tadi saya lihat. Masih salah. Tak ada perbaikan. Huhh. Komplain lah saya ke bapak penjaga loket yang tadi terima foto kopi data saya. (dalam hati, "JADI BEGINI HASIL KERJA BERBIAYA 50 RIBU TADI?!!). 

Akhirnya data saya diperbaiki. Saya dapat surat pengantar cabut berkas yang harus minta cap pengesahan di bagian TU lagi. Dan tepat pukul 10.00 acara cabut berkas selesai.

Buru-buru saya ke parkiran dan dalam perjalanan kaki ke parkiran sempat bingung langsung lanjut urus ke POLRES DEPOK atau tidak. Takut waktu tidak cukup, belum membayangkan antrian pengurusannya. Agak gundah. Tapi tetap harus ada keputusan. So... beranjaklah saya menuju Depok membelah macetnya jalur Daan Mogot-Grogol----Pancoran-Pasar Minggu-Lenteng Agung.... 

11.45 sampai POLRES DEPOK. Parkir di pinggiran jalan raya di depan Bank BRI yang berada tepat di sebelah POLRES, langsung saya menuju ke bagian pengurusan SIM. Sebenarnya bisa juga parkir di dalam area POLRES. Lokasi parkir opsional saja, bebas.
Saya langsung menuju di sebuah loket yang kemudian saya tau lokoet tersebut adalah loket BRI. Saya tanya mutasi atau perpanjangan SIM C bagaimana caranya, syaratnya blablabla. Langsung dijelaskan dengan singkat sambil disuruh lihat tulisan yang ditempel di sebelah loket.
Kurang lebih syaratnya sbb:

1. Foto kopi KTP 2 lembar
2. Surat keterangan sehat
3. SIM asli
4. Bayar 105 ribu rupiah untuk administrasi termasuk untuk bayar premi asuransi.

Surat keterangan sehat bisa didapat dari klinik kesehatan di POLRES dengan biaya 22.500 rupiah. Setelah dicek tensi dan test mata langsung dapat suratnya. Kembali lagi ke loket BRI, kasih semua syarat, dan imbalannya petugas loket akan memberikan kita map berisi berkas-berkas persyaratan yang harus diserahkan ke loket pendaftaran di dalam kantor bagian pembuatan SIM.
Sek...sek... sebentar dulu... terus surat pengantar cabut berkas saya tadi bagaimana? Kata petugas loket mau dipakai boleh atau ga pun juga boleh. Nah loh... jebule malah ga dipakai. Buktinya ga diminta untuk dimasukkan ke berkas. Halahhhh.... percuma capek-capek ke Daan Mogot keluar duit, tenaga, ongkos bensin, keringet, emosi. Mungkin karena POLRES Depok masih berada di wilayah POLDA METRO JAYA. Tidak sempat bertanya perihal tersebut sih. Yasudahlah.

Skip. Serahkan berkas ke loket pendaftaran. Langsung tunggu giliran foto di ruang tunggu yang sudah terisi lumayan banyak penunggu. Sekira 20-30an orang. Hanya 7 menit menunggu langsung dipanggil ke ruang foto. Petugasnya mas polisi dan mbak polisi, masih muda-muda, ganteng dan cantik-cantik bak model. Tenan. Saya dihandle mas sopo mbuh jenenge. Verifikasi data, difoto, scan finger: 4 jari kanan kecuali jempol, 4 jari kiri keecuali jempol, jempol kanan+jempol kiri berbarengan, jempol kanan only, tandatangan, done, 5 menit saja selesai.

Sesi foto selesai, tunggu lagi di ruang tunggu. 5 menit kemudian SIM C alamat Depok sudah jadi. Cepet bingit. Jadi total di POLRES DEPOK ngurus mutasi atau perpanjangan SIM C cuma 15 menit udah termasuk mondar-mandir. 
Mondar-mandir yang ke SATPAS Daan Mogot ga usah dihitung. Sudah abaikan sajalah. 

Jadi intinya, bagi yang ingin perpanjang atau mutasi SIM di Depok mending siapkan dulu syarat seperti yang saya sebutkan di atas dan langsung datang urus sendiri ke POLRES Depok. Tak perlu pakai calo karena mengurus sendiri sangat-sangat mudah dan cepat. 

NB: ada tulisan di ruang tunggu pembuatan SIM di POLRES Depok bahwa standar pelayanan perpanjangan SIM adalah 30 menit dan  standar pelayanan pembuatan sim baru adalah 1 jam. Dan yang sudah saya buktikan adalah... hanya butuh separoh dari standar yang ditetapkan.
Bagus deh. Lanjutkan dan terapkan untuk pelayanan-pelayanan yang lain, ya.. :)

Rabu, 27 April 2016

Libur Yang Panjang

Di tengah aktifitas rutin yang dijalani, entah itu padat atau biasa-biasa saja, entah itu pelajar atau pekerja atau... yang sedang tidak belajar dan sedang tidak punya kerja, pikiran pasti butuh refreshing. Karena, rutinitas kadang mengundang kebosanan datang. Kalaupun bukan bosan, mungkin ada yang merasa "hampa". Apalagi jika rutinitas yang memang dasarnya membosankan, itu-itu saja.

Bukan hanya me-refresh pikiran, pun fisik kadang juga butuh di-refresh. Badan akan terasa letih sebanding lurus dengan otak yang dipacu untuk melakukan pekerjaan. Jadi memang benar jika ada perkataan bahwa kebanyakan penyakit berasal dari pikiran. Bukan begitu...?

Untuk menyiasati fisik dan psikis yang lelah, liburan adalah solusi yang paling tepat. Berlibur berarti mengistirahatkan baik pikiran maupun badan dari rutinitas yang biasa dijalani. Dan saat kembali dari liburan nantinya semua akan terasa lebih ringan dan lebih bersemangat lagi dalam beraktifitas. Inginnya.

Betapa "beruntungnya" saya karena saat ini sedang menjalani masa-masa libur. Dan bisa dibilang liburan saya kali ini terhitung panjang. Berbeda dari pelajar atau pekerja yang waktu-waktu liburnya sudah diatur, sebagai seseorang yang sedang menunggu hari pertama bekerja di perusahaan baru setelah hengkang dari perusahaan lama, menentukan sampai kapan waktu libur selesai adalah hal yang cukup luar biasa bagi saya. Bagaimana tidak, mengingat jika saat bekerja mungkin hanya satu atau dua hari saja ijin cuti yang diberikan di tiap bulannya, saat ini liburan yang saya jalani adalah dua bulan!

Sederhana saja alasannya. Hampir satu setengah bulan setelah memutuskan hengkang dari perusahaan lama saya belum juga menemukan tempat baru untuk bekerja. Dalam satu bulan pertama memang sempat ada tawaran bekerja tapi mungkin memang belum cocok, jadi berlanjutlah job-hunting  saya hingga akhirnya saya menemukan tempat baru yang kemudian akan menjadi persinggahan kerja saya selanjutnya.

Di perusahaan inilah ketika wawancara kerja (-singkat) dengan pemilik perusahaan saya mengungkapkan bahwa saya baru bisa mulai bekerja setelah dua pekan nanti.  Dengan alasan ada beberapa hal administratif di luar kantor yang harus saya selesaikan. Bagusnya, sang pemilik perusahaan menyetujui hal itu karena memang sedari awal wawancara (-singkat) beliau sempat menanyakan apakah ada sesuatu yang masih menggantung yang harus diselesaikan sebelum saya memulai bekerja di tempat beliau.

Berbekal kebijakan pemilik perusahaan yang baru itulah saya mendapatkan total "liburan" saya nantinya akan menjadi 2 bulan. Hehehe. Dan apa saja yang saya lakukan selama itu? Yang saya lakukan adalah... mengurus SIM, pengkinian alamat NPWP, membuat rekening bank yang baru, antar-jemput istri kerja (-lhoh), dan sisanya nongkrong di perpustakaan (-eh). Saya juga menyempatkan diri untuk menonton film di bioskop bersama istri saya. Bisa dibilang ini hobi kami (-halah). Dalam satu setengah bulan "liburan" film di bioskop yang sudah saya dan istri tonton kurang lebih 7 judul (-kalau tidak salah).

Oh iya, dan  satu hal lain yang ingin saya selesaikan adalah klaim BPJS Ketenagakerjaan. Rencana di minggu akhir "liburan" baru bisa diurus.

Saya ingin berbagi pengalaman-pengalaman saya selama liburan dalam posting yang berbeda. Mungkin (-dan semoga) ada hal yang bisa diambil dari setiap postingan saya nantinya. Kalaupun tidak, setidaknya jari-jari saya yang "gatal" ini bisa puas menggaruk-garukkan diri ke keyboard supaya hilang "gatal"nya.

Salam.

Senin, 18 April 2016

Things You Don't Say To Your Wife

Sedikit nasehat bagi pria yang sudah menikah (atau tepatnya yang sudah lama menikah).
Jangan dibawa terlalu serius...


You may sing it in front of your wife. But highly not recommended :)

The Wife Song (by Tim Hawkins)
 
Hey honey have you gained some weight in your rear-end
That dress you wear reminds me of my old girlfriend
And where'd you get those shoes? I think they're pretty lame
Would you stop talking 'cause I'm trying to watch the game

If you're a man who wants to live a long and happy life
These are the things you don't say to your wife
I planned a hunting trip next week on your birthday
I didn't ask you 'cause I knew it'd be OK
Go make some dinner while I watch this fishing show
I taped it over our old wedding video

If you're a man who wants to live a long and happy life
These are the things you don't say to your wife

Your cooking is OK but not like mother makes
The diamond in the ring I bought you is a fake
Your eyes look puffy dear, are you feeling ill?
Happy anniversary I bought you a treadmill

If you're a man who wants to live a long and happy life
These are the things you don't say to your wife
If you're a man who doesn't want to get killed with a knife
These are the things you don't say to your wife

Jumat, 07 Agustus 2015

Arctic Monkeys Must - Listen Songs

Banyak band yang datang dengan lagu-lagu mereka. Ada yang benar-benar original, ada yang sedikit menyadur, ada yang menjiplak terang-terangan. Ada yang lagunya enak.... Kalau yang ini sih absolutely relatif ya... Tergantung konstruksi dinding telinga, besar kecil gendang telinga dan peka tidaknya sense of listening. Ga begitu juga sih sebenarnya. Selera orang sudah hampir bisa dipastikan, tidak melulu sama. Semua punya selera masing-masing. Masing-masing unik, tidak ada yang aneh. Kali...

Bagi saya sendiri, tidak ada kriteria khusus dari sebuah lagu untuk bisa menjadi lagu yang enak didengar. Kalau enak ya enak saja. Begitu kira-kira kurang lebihnya.

Ada beberapa lagu Arctic Monkeys yang menurut telinga saya paling enak dinikmati daripada lagu-lagu mereka yang lain. Ya, lagu-lagu mereka memang enak-enak semua. tapi berikut ini top four menurut saya:

1. Dance Little Liar dari album Humbug
2. Crying Lightning dari album Humbug juga
3. Red Right Hand. Yang ini mereka mengcover lagu lawas milik Nick Cave & The Bad Sheets.
4. Do I Wanna Know? dari album AM

That's all.

Kamis, 31 Oktober 2013

Tuntutan Kenaikan Upah Minimum

Hari ini, Kamis, 31 Oktober 2013, ada aksi besar-besaran dari serikat/aliansi pekerja Indonesia. Kabarnya aksi ini akan berlangsung selama 2 hari ke depan. Aksi ini merupakan salah satu bentuk usaha para pekerja (yang diwakili oleh aliansi pekerja) atas tuntutan mereka: kenaikan upah minimum. Aksi ini sendiri yang saya tau salah satunya adalah aksi sweeping para demonstran ke pabrik-pabrik, terutama yang tetap mempekerjakan para karyawannya pada hari ini. Para karyawan yang bekerja saat disweeping akan dipaksa dipulangkan, seperti yang pernah saya alami di perusahaan tempat saya bekerja dulu -red: saat ini saya sudah bekerja di tempat lain. Dalam sebuah spanduk yang dipasang di ujung pertigaan di Kabupaten Bogor sempat saya baca tentang tuntutan aliansi pekerja daerah Bogor yang menginginkan kenaikan upah minimum berdasarkan item KLH (CMIIW) sebesar IDR 3.5 juta mulai tahun 2014 mendatang. Dalam spanduk tersebut juga dituliskan bahwa jika tuntutan itu tidak dikabulkan maka mereka akan melakukan aksi mogok massal pada 28 Oktober 2013-2 November 2013. Kenyataannya, pada tanggal 28 Oktober 2013 sampai kemarin (tanggal 30 Oktober 2013) saya tidak mendengar kabar yang ramai membicarakan aksi yang dimaksud. Dan baru pada hari ini perusahaan tempat saya bekerja benar-benar meliburkan seluruh karyawannya (terutama bagian produksi) sampai esok hari yang ditujukan untuk mengantisipasi aksi sweeping yang biasa dilakukan para demonstran saat terjadi demonstrasi yang dibarengi aksi mogok kerja. Saya sendiri adalah seorang staff di perusahaan saya sekarang, dan tidak masuk dalam daftar karyawan yang diliburkan (padahal sebenernya pingin juga diliburkan. hehehe). Kembali lagi pada tuntutan aliansi pekerja yang menginginkan upah minimum sebesar IDR 3.5 juta. Ada selentingan dari salah seorang investor asal Jepang yang bekerjasama dengan perusahaan saya. Perusahaan saya bergerak di bidang garment. Kebayang kan bagaimana sebuah perusahaan garment... Orang tersebut bilang "Saya sih setuju saja dengan tuntutan para pekerja tersebut (red-dengan upah minimum IDR 3.5 juta). Asal... Operator jahitnya berpendidikan minimal S1". Ya, ya, ya... Itu sih namanya keberatan cuman kalimatnya aja yang lain pak. Hahaha... Begitulah, penilaian tentu berbeda-beda tergantung dari mana kita mau melihatnya. Dari sudut pihak manajemen perusahaan, tuntutan upah minimum yang sebegitu besar tentunya membuat manajemen perusahaan harus berpikir keras untuk menaikkan harga barang yang ditawarkan kepada investor asing. Jika harga yang ditawarkan terlalu besar, besar kemungkinan investor akan lari. Ujung-ujungnya perusahaan kehilangan klien. Perusahaan bisa saja kolaps karena kehilangan pemasukan. Jalan lain, memindahkan pabrik tempat berjalannya produksi ke lokasi dimana upah minimumnya masih bisa tertutupi biaya dari harga lama yang ditawarkan ke investor. Atau bisa saja dengan jalan memangkas jumlah karyawan. Padahal semua ujung-ujungnya akan berimbas ke karyawan juga. Yang pasti untuk perusahaan akan merasa keberatan dengan jumlah tuntutan yang sebesar itu. Dilihat dari sisi lain, pekerja di Indonesia sudah terkenal akan harganya yang murah (red-upah). Makanya banyak sekali perusahaan asing berbondong-bondong berinvestasi di Indonesia. walaupun sekarang ada tuntutan untuk menaikkan upah minimum ke angka 3.5 juta Rupiah, itu pun masih berada di bawah angka upah minimum di beberapa negara Asia yang lain. Pantas saja banyak orang Indonesia yang merantau ke luar negeri menjadi TKI. Bekerja jadi buruh di Malaysia bahkan bisa memperoleh upah lebih banyak dari pada jadi buruh di negara sendiri. Apalagi yang bisa sampai bekerja di negara maju seperti Jepang, Korea, atau bahkan ke negara Timur-Tengah yang terkenal kaya dan berupah sangat besar. Kembali lagi, semua tergantung dari mana kita melihat sebuah hal. Sebagai seorang karyawan swasta, tentu saya sangat mendukung untuk kenaikan upah minimum sebesar itu. Apalagi kalau benar-benar dikabulkan. Hehehe. Asalkan dalam prakteknya nanti tidak ada pihak-pihak yang dirugikan, tidak ada investor yang lari dari Indonesia, tidak ada PHK besar-besaran, pokoknya semua berjalan damai dan lancar, termasuk dalam proses menuntutnya, semoga tidak ada kekerasan dan tindak anarkis. Mari berdoa saja untuk kebaikan semua...

Rabu, 06 Maret 2013

Bekerja Online

Hahahaha... Menggelikan mungkin bahkan buat saya sendiri. Seiring "keprihatinan" saya tentang waktu bekerja saya, saya pun "dituntun" ke kerja online. Yang kalo sekilas saya perhatikan menawarkan kelonggaran waktu. Jadi waktu kerja kita sendiri yang tentukan. Bagaimana tidak menggiurkan... Itu yang saya cari, pikir saya. Tapi saya tak ingin terlalu awal berpikir yang indah-indah, karena saya untuk urusan beginian masih sangat awam bin newbi. Tak ingin ber-NATO, cobalah saya Sign Up ke salah satu web yang dianjurkan -Megatypers-. Malangnya, sudah 2 kali daftar dengan dua akun berbeda selalu bermasalah saat log in. Entahlah kenapa itu masalahnya padahal sudah memsukkan data log in yang benar seperti waktu register. Masih penasaran, saya coba web lain -Kolotibablo-. Berhasil registrasi, sudah sempat memulai kerja tapi... too slow internet connection force me to stop my work quickly. Bah... Mungkin karena sudah malam, dan lebih baik saya coba lagi besok. Berharap apa yang saya baca dari kisah teman-teman yang sudah mencoba lebih dulu bisa pula berlaku di saya. Get more spare time and keep earning.

Lalu Apa?

Segelintir orang bisa dengan mudah mendapat pekerjaan. Beberapa gelintir orang tidak. Beberapa terlalu selektif. Satu-dua-tiga orang terima-terima saja. Saya masuk yang mana? Kembali pada masing-masing individu yang menjalaninya. Tergantung apa niat dan tujuan yang ingin dicari. Saya pribadi, lebih cenderung pada "menikmati". Menikmati hidup tentunya, bukan menikmati pekerjaan. Pekerjaan bagi saya adalah hal untuk memumjang aktifitas kehidupan saya. Jadi titik beratnya ada di kehidupan saya. Sekali lagi, bukan di pekerjaan saya. Jadi kalau ada pertanyaan yang ditujukan ke saya tentang kriteria apa yang saya pertimbangkan dalam memilih pekerjaan, akan saya jawab "waktu". Saya bukan tipe orang yang ngoyo dalam melakukan pekerjaan. Pun bukan orang yang hanya tidur mulu bermimpi akan ada genteng jatuh terbuat dari emas di samping guling saya. Saya hanya ingin, waktu untuk melakukan pekerjaan saya saya jalani secara normal dan tidak berlebihan. Walaupun sejauh ini saya belum bisa melakukannya karena memang tuntutan pekerjaan saya. Tapi yang pasti saya tak ingin terus menerus kendali waktu saya ditentukan pekerjaan, tapi pekerjaanlah yang akan saya kendalikan dengan waktu. Waktu adalah salah satu hal penting bagi saya. Menikmati hidup butuh waktu. Dan seluruh waktu kita akan terasa sayang jika hanya lebih banyak dihabiskan untuk pekerjaan. Tapi saya juga tidak lupa, bekerja itu juga penting. Yang paling penting tentunya bagaimana kita membuat semuanya adil, menempatkan sesuatu pada tempatnya, menyeimbangkan segala yang harus seimbang dan menikmati apa yang seharusnya dinikmati.

Sabtu, 15 Desember 2012

Sunday is Working Day

Kadang hari Minggu bisa jadi hari kerja juga alias working day. Seperti hari ini. Biarpun sebenarnya tak masuk kantor pun tak apa-apa, tapi karena kemarin sempat ada kerjaan yang belum terselesaikan jadilah masuk juga saya ke kantor ini. Tapi karena kerjaan yang belum kelar itu cuma kirim 1 email pemberitahuan pengiriman dan sudah selesai, jadilah kelar pekerjaan untuk minggu ini. Tinggal pekerjaan buat besok. Yang besok biarlah untuk besok. Hehehe. Rencana hari ini hanya kerja setengah hari, seperti hari Sabtu.Kegiatan selanjutnya... Jemput si RIP dari kelar outbound di Puncak. Setelah itu... terserah and. Eh saya aja. Pinginnya jalan-jalan tapi karena ada motor ya naik motor-naik motor saja. Banyak tempat yang ingin dikunjungi tapi mungkin belum ada waktu yang tepat saat ini. Lelah kerja, stress oleh full-day pushed working memang hanya bisa dikurangi dengan relaxing mind by jalan-jalan. Bukan begitu sodara-sodara... Begini.

Minggu, 15 Juli 2012

H-3 Bulan Puasa 2012

Ya, H-3, karena saya meyakini awal puasa tahun ini adalah tanggal 19 Juli 2012. Entahlah itu di bawah siapa. Hehehe. Di bawah gencetan sakit kepala yang sudah beberapa hari ini bergerilya, yang tau-tau muncul tak terduga, saya juga ikut menghitung mundur hari H awal puasa. Count-down begitulah istilahnya. Karena bulan puasa selalu istimewa buat saya, terlepas nanti bagaimana saya menjalankannya. Apakah akan lancar dan ful tanpa lobang, ataukah banyak lobang seperti gigi bocah yang kebanyakan makan permen. Marilah kita lihat saja nanti. Harapan saya tentunya puasa kali ini lebih baik dan lebih berarti dari puasa yang sudah-sudah, serta benar-benar mampu merubah keseharian saya yang -saya rasa- mulai berkurang kualitasnya. Semoga. Aamiin.

Jumat, 19 Agustus 2011

RAMADHAN 20TH

Sahur ke-20 di bulan Ramadhan tahun ini. Sepertinya ini sahur terbanyak -ukuran porsi nasinya-, hehehe. Pagi ini berlaukkan sate ayam. Biarpun nasinya porsi 2 orang, tapi satenya cukup 5 tusuk saja. Lhah... Pagi-pagi sebelumnya hampir selalu kurang begitu bergairah makan. Mungkin karena malamnya terlalu banyak konsumsi cairan, jadi paginya berasa eneg terus. Bahkan saking enegnya terkadang jadi susah tidur. Sampai-sampai sahur pun lewat karena mata terpejam terlalu pagi. Tercatat, dari 20 hari ini sudah 4 sahur terlewat. Alhamdulillah biarpun laper di siang hari kadang menjadi tapi tak menyusutkan niat untuk puasa sampai maghrib menjelang. Halah. Yang pasti sahur pagi ini rasanya seperti sarapan di hari minggu pagi. -padahal masih hari Sabtu-. Semoga puasa kita lancar dan tertuntaskan sampai akhir Ramadhan nanti. Aamiin...

Sabtu, 30 April 2011

Kerjakan

Kerjakanlah banyak sesuatu dengan ikhlas. Ikhlas menentukan nilai sebuah pekerjaan. Semakin banyak pekerjaan yang dikerjakan dengan ikhlas, semakin banyak nilai yang kita dapat. Banyak atau sedikit bukanlah ukuran, ikhlas adalah pertimbangannya.

Jumat, 29 April 2011

Bahagia

Kebahagiaanku belum tentu kebahagiaan juga untuk orang lain. Kebahagiaan orang lain bisa jadi kebahagiaanku juga. Kita bahagia bukan berarti semua orang ikut bahagia. Tak ada yang pasti, bahkan untuk sebuah kebahagiaan. Maka berbahagialah, karena belum tentu kesedihanmu akan membahagiakan orang lain.

Minggu, 27 Maret 2011

My Little Nephew

Hari Minggu telah usai. Rencana diajak berlibur ke Dufan bareng teman spesial dan keluarganya yang seharusnya hari ini belum bisa terlaksana karena ada kunjungan dadakan si emak dari kampung. Ini hari terakhir emak di Jakarta. Sekalian bertemu emak, mengantar ke tempat kakak di Priok setelah sebelumnya jemput dulu di tempat kakak di Ciputat (udah bener-bener sperti kurir antar jemput saya ini, tapi tak apa lah demi emak... haha). Di Ciputat ada dede kecil -Shakila- di Ciputat ada 2 dede kecil juga -Najla dan Ayesha-, Najla ponakan pertama dari kakak pertama saya, Ayesha, adeknya Najla, baru sekali ini saya melihat dia karena memang sejak dilahirkan sampai dua minggu kemarin dia ada di rumah emak -neneknya Ayesha di Klaten sono.....-. Si Aye ini gemuk+berkulit putih -dari bapaknye sepertinye-. Bocahnya anteng -setidaknya tadi selama saya di rumah dia..-
Here is she....




My little nephew....

Rabu, 16 Maret 2011

Covernya Manaa...?!!


Hari ini tidak begitu banyak kerjaan. Tapi tetep padat waktu kerjanya, sedikit luangnya kecuali pas mati lampu beberapa puluh menit. Stress, biasa. Berkeringat, sama seperti kemarin-kemarin. Apalagi lagi kene flu+kepala jadi ikutan berat gara-gara dari hidung ada yang meler terus..... lerrr.... slurrpp.... ☺☺
Kebetulan pula hari ini ada orang agent datang dari Jakarta, yang biasa ngecek-ngecek quality sebelum dikirim ke buyer buat cari approval.
Setelah semua selesai dicek sama orang buyer (namanya Mr. AZ -dari A sampai Z namanya, makanya disingkat AZ. kebayang dah seberapa panjang nama itu orang. Padahal mah kaga. Males aja nyabutnya-) beliau -halah. diye aja lah- beri gua instruksi buat siapin segala sesuatunya mule dari dokumen sampai cara packing, sampe attention orang yang dituju.Gua iye-iye aja mengiyakan permintannya. FYI, sekedar info, Mr. AZ ini terkenal tengil sok-sokan semua yang ga enakin lah di kalangan team gua. Termasuk juga kekonyolannya -konyol dungu gituu...-.
Pas gua baru ngepak-ngepak barang yang diinstruksikan buat dikirim, tau-tau telfon berdering. Dari Mr. AZ. Kata diye, "Tito, gimana, sudah siap semua?". "Sudah pak, tinggal dimasukin ke polybag sama boxnya, terus dibinin dokumennya+nunggu kurir dateng", kata gua. -itu mah belum apa-apa kali... hahaha...-. "Oya. Oke. bagus", kata beliau. -nah lo, sapa yg dibego-begoin nih...-. Lanjut diye, "nanti jangan lupa bikin covernya ya.". Telfon ditutup. Selang berapa saat diye datang ke meja gua. "Tito, kamu ada format cover yang biasa buat kirim langsung ke buyer?". Cover yang mana ya pak?". "Cover... yang biasa ada kalo tiap kirim barang ke buyer... Yang ada alamat, style barang, detailnya lah pokoknya...". "Ohh... Shipping mark..??" gua langsung buka folder gua, gua kasih liat diye format-format alamat alis shipping mark. Diye agak ragu... "bukan yang itu... coba buka yang laen..". Buka satu-satu, mule dari alamat ke Korea, ampe ke Amrik, Semarang -mana ada-, Jogja, Solo -balik kampung dah gua-, ke Amrik lagi, kata diye tetep, "bukan itu.. bukan begini.... yasudah nanti saya tanya ke teman saya di agent, biar diforward ke kamu.". "OK pak!', jawab mastito. Mr AZ pun berlalu sekejap mata.... Tak lama kemudian, berapa jam diye nelfon lagi. "Tito, gimana, udah diforward belum covernya??". "Belom pak, mati lampu disini. Belom bisa ngecek saya...". "Moso sihh?". "Kalo di ruangan bapak emang pake genset, jadi ga mati pak..". "Oh..., yasudah, nanti kalo sudah nyala kamu cek lagi masuk belum forward covernya." "OK pak". Lampu pun nyala. Gua cek lagi email, ga ada forward dari temen Mr AZ. Ampe akhirnya gua nanya senior gua, senior gua akhirnye telfon temen Mr AZ. Gua nguping, dan intinya adalah yang di maksud Mr AZ itu memang shipping mark yang tadi gua tunjukin ke Mr AZ. Yasudahlah, stop disitu masalah cover.... Tapi telfon gua bunyi lagi. Mr AZ datang lagi suaranya dengan covernya yang masih nggantung. Kata diye, "apa susahnya sih forward cover doang". Meneketehe sirr...
Gua lanjut sibuk-sibuk siapin barang yang mau dikirim. Mash punya Mr AZ gua yang gua kerjain. Sambil gua ngecek email lagi. Eh, ada email dari temen Mr AZ. Gua buka. Gua lihat, telaah, pelajari. Dan, gua temukan lah apa yang diributin Mr AZ dari tadi, The Cover. Buru-buru dah gua edit-edit detailnya. Gua print-out. Pas kelar ngeprint, Mr AZ datang lagi ke meja gua. "Tito, gimana...?". "Oh, udah pak. Ini sudah saya print juga". Coba sini saya liat...". "OK, iya begini.. betul.. Ini tambahin dikit lagi ya di sini... yak betul. Ok.". "OK pak.".
Berkelebat lagi lah diye sekelarnya urusan dengan covernya. Gua jadi ngrasa aneh aja, temen team gua juga... Lha wong cover yang dimaksud si Mr AZ itu memang shipping mark. Bedanya, shipping mark yang biasa dipake di tempat gua lebih formal dengan hanya ada variasi warna+garis dikit. Sedang punya Mr AZ, memang agak rame sih, ada rangkaian daunmenjulang di sisi kiri, ada kartun pesawat lagi take off di kiri atas, plus animasi gedung pencakar lagit di kanan bawah. Selebihnya sama, berisi nama, alamat, detail barang yang dikrim buat penerimanya. Oh maii.... Pesawat di shipping mark emang bikin cepet nyampe tujuan juga kali ye....

Kamis, 10 Maret 2011

Lumayan

Hari ini gua balik sorean, jam 18.10 menit.
Dua hari kemarin balik gawe jam 8-setengah 9an. Si boss nyuruh gua balik cepet. -Astaga, segini aja dibilang cepet. gua kerja dari jam 8 pagi sampai minimal jam 18.15 setiap harinya.- Pas banget, masih agak sore. Seperti biasa, gua ga akan menyia-nyiakan kesempatan. Gua hubungin lah cewek gua, buat ketemuan gitu, kan lumayan biarpun bentar. Kalo liat cewe gua rasanya jadi adem -hahaha-. Belakangan ini kepala+ati gua memang lagi panas+mampet gara-gara kerjaan+tempat kerja+semua yang berhubungan sama kerjaan. Tapi yaaa begitu... gua gak bisa ketemuan karena ada sesuatu hal di luar perkiraan gua. Gua kecewa sih, apalgi ati gua malah jadi mampet gara-gara usaha gua ngajak ketemuan itu. Yasudahlah. Tak apa.

Selasa, 08 Februari 2011

Mendekatkan Yang Jauh, Menjauhkan Yang Dekat

Memang benar.... slogan paling pas buat vendor hape B*****err*. Hahaha...

Tapi sebenarnya tergantung juga bagaimana orang yang memakainya. Tapi saya 98% yakin, social networking or chatting freak pasti pada bisa makin jadi autis kalau punya hape itu. Secara....

Yang penting harus tetap bisa memilah dan bersikap sebagaimana musti bersikap, menyikapi dunia nyata. Dan dunia maya. Haha...

So tired thinking of it...